Beranda Daerah Keracunan Ciki Ngebul di Jabar sebagai KLB, Bontang Belum ada Laporan, Kadinkes...

Keracunan Ciki Ngebul di Jabar sebagai KLB, Bontang Belum ada Laporan, Kadinkes Toetoek : Waspadai Jajanan Itu

0
Kasus Ciki Ngebul Bontang
Jajanan jajanan ciki berasap nitrogen atau ciki ngebul (cikbul) / ist

Kasus keracunan ciki ngebul (cikbul) di Jawa Barat ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB) diduga sebabkan peradangan usu pada anak.

Melansir dari pikiranrakyat.com, Kementerian Kesehatan menyatakan, keracunan pangan yang diduga akibat mengonsumsi jajanan ciki berasap nitrogen atau cikbul di Provinsi Jawa Barat sebagai kejadian luar biasa (KLB).

Kemenkes pun meminta Dinas Kesehatan provinsi, kota, dan kabupaten serta rumah sakit, segera melaporkan apabila ditemukan kasus keracunan pangan akibat konsumsi jajanan cibul.

Sementara itu Kota Bontang, Provinsi Kalimantan Timur melalui Kepala Dinas Kesehatan Bontang, drg Toetoek Pribadi Ekowati, sejauh ini di Bontang belum ada laporan terkait jajajan ciki ngebul, meskipun ada pedagang cikbul pada tempat-tempat event.

“Ada memang pedagang cikbul kami jumpai pada beberapa event di Bontang seperti pasar malam, pameran dan sebagainya, tapi sampai saat ini belum ada laporan korban terkait hal ini,” ujarnya Toetoek saat duhubungi media kami, Selasa (10/1/2023) tadi.

Kendati demikian, Toetoek menghimbau kepada masyarakat untuk berhati-hati terhadap jajanan tersebut.

“Ini karena menggunakan bahan nitrogen untuk kepulan asapnya yang timbul, saya menghimbau kepada orangtua untuk berhati-hari menberikan jajanan kepada anaknya,” pesan Toetoet

Lebih lanjut Toetoet menerangkan, nitrogen cair bisa saja masih tertinggal di mangkuk tempat ciki dan bisa juga terminum yang berakibat pada iritasi saluran pencernaan bahkan perforasi bila jumlah nitrogennya besar.

“Pilihlah jajanan atau makanan yg sehat, hygienis serta benar cara pengolahannya,” imbuhnya Toetoet.

Keracunan Cikbul di Jabar

Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) pada Dinas Kesehatan Pemprov Jabar, dr Ryan Bayu santika Rustandi mengatakan, pada akhir tahun 2022, ada 28 anak mengalami keracunan cikbul. Mereka tersebar di Kabupaten Tasikmalaya (November 2022) dan Kota Bekasi (Desember 2022).

“Yang makan cikbul di Kabupaten Tasikmalaya sebanyak 24 orang. Dari jumlah itu, 7 orang bergejala, 16 orang tanpa gejala, dan 1 orang dirujuk ke RS SMC. Untuk di Kota Bekasi, yang makan cikbul ada 4 orang, 1 orang ber gejala, dan 3 orang tanpa gejala,” ujarnya mengutip pikiranrakyat.com, Senin (9/1/2023).

Total di Jawa Barat, yang makan cikbul ada 28 orang dengan 8 orang bergejala, 16 orang tanpa gejala, dan 2 orang di rujuk (RS SMC dan RS Haji).

“Sementara kita lanjutkan info surat edaran Dirjen Yankes ke seluruh kabupaten dan kota, P2P melakukan kewaspadaan dan melakukan penyelidikan epidemiologi. Sejauh ini belum ada kasus tambahan,” ucap dia.

Peradangan

Ryan menuturkan, cikbul mengandung nitrogen cair.

”Nitrogen cair adalah bahan kimia yang tak boleh dicampur dengan makanan,” ujarnya.

Dia menambahkan, berdasar pengamatannya, anak yang bergejala berat hingga mengalami peradangan di usus, ternyata mengonsumsi bagian sisa cairan nitrogen yang terdapat pada cikbul.

”Ini menandakan betapa berbahayanya cairan nitrogen bagi lambung anak. Yang berat itu karena sisa cairan di kemasannya dikonsumsi anak. Apalagi usianya baru 4 tahun. Dampak nitrogen cair khusus pada lambung anak sangat berat,” ucapnya.

Pihaknya bakal mengkaji kemungkinan melarang peredaran cikbul. Hasil kajian bakal menjadi rekomendasi untuk dinas terkait.

“Kami akan memberikan suatu rekomendasi usulan untuk penindakan, apakah diperbolehkan atau segera distop. Tentu saja, dengan adanya kasus yang berat ini, akan menjadi pertimbangan yang segera dijadikan suatu kebijakannya,” kata Ryan.

Selain mengkaji penjualan cikbul, Dinkes Jabar juga terus menjalin koordinasi dengan Dinkes kabupaten dan kota untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap konsumsi cikbul oleh anak-anak.

“Kemungkinan makanan yang berhubungan dengan nitrogen cair ini, membahayakan, terutama untuk anak-anak,” ucap Ryan.

Baca artikel menarik lainnya di Google News klik di sini >>

kaje/red

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini