Beranda News Sejarah dan Fungsi Alat Musik Calung dari Jawa Barat

Sejarah dan Fungsi Alat Musik Calung dari Jawa Barat

Calung adalah alat musik Sunda yang merupakan prototipe atau purwarupa dari angklung

0
Penampilan Calung Glamour Paguyuban Wargi Sunda Bontang di acara HUT Paguyuban wargi sunda Samarinda-Kalimantan Timur (Foto; pwsb)

Paragrafnews-Bandung: Calung adalah alat musik Sunda yang merupakan prototipe atau purwarupa dari angklung. Berbeda dengan angklung yang dimainkan dengan cara digoyangkan, cara menabuh alat musik dari Jawa Barat ini adalah dengan memukul batang  dari ruas-ruas (tabung bambu) yang tersusun menurut tangga nada pentatonik.

Jenis bambu untuk pembuatan alat musik ini kebanyakan dari awi wulung (bambu hitam), namun ada pula yang dibuat dari awi temen (bambu yang berwarna putih).

Alat musik dari Jawa Barat ini termasuk dalam kategori idiophone yaitu alat musik dimana badan alat musik itu sendiri yang menjadi sumber bunyi. Selain itu alat ini juga termasuk alat musik perkusi karena cara memainkannya dengan dipukul.

Zaman dahulu, para pemuda biasanya memainkan alat musik tradisional ini disela-sela pekerjaannya mengusir burung dan hama lainnya yang ada di sawah. Sedangkan di daerah Parung, Tasikmalaya ada sebuah upacara adat yang disebut tarawangsa.

Pada upacara tarawangsa calung akan dikolaborasikan dengan alat musik tarawangsa sebagai ritual penghormatan terhadap Dewi Sri. Alat musik yang biasa dipakai dalam upacara ini adalah jenis rantay. Lagu yang dibawakan pada saat upacara ini berlangsung adalah lagu yang berisi puji-pujian terhadap Dewi Sri.

Perpaduan di dalam mengkomposisikan tabuhan gending, lagu, guyonan atau lawakan. Menjadikan sebuah garapan musik rakyat yang sangat digemari di seluruh lapisan masyarakat, khususnya untuk pecinta kesenian Jawa Barat.

Calung Banyumas

Calung banyumasan adalah alat musik tradisional serjenis perkusi mirip gamelan yang terbuat dari bambu. Berada dan berkembang di daerah asalnya yaitu banyumas.

Arti kata calung sendiri berasal dari dua kata yang di gabung menjadi satu yaitu “carang pring wulung” (pucuk bamboo wulung) dan ada juga yang mengartikan “di cacah melung-melung” (di pukul berbunyi nyaring).

Asal usul musik ini mengacu pada bongkel. Hal ini terlihat dari pembuatan, sistem pelarasan, struktur komposisi, bentuk fisik instrumen, bahan baku, proses, dan teknik permainan dari beberapa instrumen. Bongkel adalah Musik yang selama ini disebut-sebut sebagai cikal-bakal Angklung dan Calung Banyumas.

Anggapan seperti ini cukup masuk akal, karena salah satunya adalah bentuk musik rakyat yang terdapat di desa Gerduren, Banyumas (Jawa Tengah). Musik ini bantu oleh instrumen perkusi seperti Angklung Bambu berlaras slendro. Dalam satu bingkai terdapat empat tabung nada berbeda.

Cara memainkannya cukup digoyang dan digetarkan memakai kedua tangan, serta diikuti tutupan jari-jari tertentu untuk menentukan nada. Karakteristik permainan bongkel terletak pada jalinan ritmis antara keempat tabung nada.

Jenis jenis Alat Musik Calung

Pada umumnya alat musik tradisional dari Jawa Barat ini terbagi menjadi 2 jenis, yaitu rantay dan jinjing. Berikut penjelasannya:

Calung Rantay

Rantay sering disebut juga renteng, gambang ataupun runtuy. Beberapa para ahli mengklasifikasikan bahwa alat musik rantay dan gambang sebenarnya berbeda jenis.

Hal ini dikarenakan beberapa daerah alat musik gambang memiliki dudukan yang paten, kurang lebih bentuknya seperti xylophon atau kolintang di Minahasa.

Untuk memainkan alat musik calug rantay biasanya dengan cara dipukul menggunakan dua buah alat pemukul dengan duduk bersila.

Alat musik rantay terdiri dari potongan bambu yang telah diikat dan disusun secara rapih dengan urutan bambu terkecil sampai yang paling besar. Kemudian tali pengikatnya direntangkan di dua batang bambu yang melengkung.

Komposisinya dalam alat musik ini ada yang berbentuk satu deretan dan juga ada yang berbentung dua deretan. Untuk yang berukuran besar disebut indung (induk) dan untuk yang berukuran kecil disebut rincik.Dibeberapa daerah seperti di Cibalong, Tasikmalaya, dan juga Kanekes. Alat musik rantay ini memiliki ancak khusus dari bambu atau kayu.

Calung Jinjing

Alat musik jinjing ini berbentuk tabung-tabung bambu yang kemudian digabungkan oleh paniir (sebilah bambu kecil). Berbeda halnya dengan alat musik rantay, alat musik ini dimainkan dengan cara dipukul sembari dijinjing.

Jinjing berasal dari bentuk dasar rantay yang dibagi menjadi empat bagian bentuk wadrita (alat) yang terpisah, yaitu kingking, jongrong, panepas, dan juga gonggong. Ke-4 buah alat musik tradisional ini dimainkan oleh 4 pemusik yang setiap dari mereka memegang fungsi yang berbeda.

Calung Kingking, alat musik ini mempunyai 15 bilah bambu dengan urutan nada tertinggi,

Calung Panepas, alat musik ini mempunyai 5 bilah bambu yang nadanya dimulai dari nada terendah pada calung kingking,

Calung Jongrong, alat musik ini mirip panepas. Bedanya hanya ada diurutan nada yang dimulai dari nada terendah pada panepas,

Calung Gonggong, alat musik ini mempunyai 2 bilah bambu dengan nada terendah.

Fungsi Calung

Calung merupakan salah satu benda yang selalu digunakan dalam upacara pertanian. Alat musikmusi ini juga alat yang disakralkan dan dalam memainkannya ada irama serta tembang tertentu. Selain itu juga, memainkan alat musik ini dipercaya dapat mencegah bala (musibah) dan juga dipercaya dapat menyembuhkan penyakit.

Alat musik tradisional ini merupakan salah satu kesenian Jawa Barat yang masih bisa bertahan hingga kini bersama dengan angklung. Sedangkan kesenian lainnya sudah tidak bisa menjaga eksistensinya dan bahkan dikategorikan kedalam warisan budaya Sunda yang hampir punah.

Awal mulanya alat musik dari Jawa Barat ini dipentaskan untuk mengiringi upacara-upacara adat sunda sebagai ritual perayaan masyarakat. Namun dengan berkembangnya zaman alat musik ini berubah fungsi menjadi alat musik yang manghibur masyarakat dengan menghasilkan harmoni yang indah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini