Beranda Daerah Diduga Salah Sasaran Pemukulan Oleh Oknum TNI, “Hizkia Julico” Koma Dan Kritis

Diduga Salah Sasaran Pemukulan Oleh Oknum TNI, “Hizkia Julico” Koma Dan Kritis

14863
0
Hizkia Julico Tengah Mendapatkan Perawatan Intensif di RSUD Taman Husada Kota Bontang (Foto: Source)

Bontang-paragrafnews: Seorang pelajar disalah satu SMK Negeri di Bontang Hizkia Julico (17), mengalami pendarahan di bagian kepala dengan kondisi koma dan kritis.

Hizkia Julico diduga menjadi korban salah sasaran pemukulan oleh petugas yang ingin mengamankan keributan dilokasi parkiran area Happy Pupyy, Jalan Ahmad Yani pada Jumat (24/01/2020) malam.

salah seorang saksi dikejadian tersebut mengatakan, saat terjadi kegaduhan antara petugas, korban terlihat sedang duduk berdampingan dengan orang yang sedang berkelahi di area parkiran itu.

Apesnya karena korban ada disitu, oknum petugas tersebut langsung melayangkan tendangan kaki kanan yang tepat mengarah di dikepala korban saat tengah duduk diam. Telak, Pelaku salah sasaran. Korban hanya diam, tapi dia kena hajar,” ujarnya “tak ingin disebut namanya”.

Ardi, kapten Happy Puppy juga membenarkan kejadian tersebut, menurutnya saat kejadian ada beberapa petugas yang hendak membubarkan kerumunan pemuda di halaman parkir. Namun, pelaku terpancing emosi sehingga kejadian itu tak terelakkan.

“Aksi pemukulan pun sempat terekam kamera CCTV dan sudah di serahkan pihak berwenang,” ungkapnya.

Sementara itu untuk diketahui, saat ini Hizkia Julico tengah menjalani perawatan intensif di Ruang ICU Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Taman Husada Bontang.

dr. Aditya Maulana, selaku dokter anestesi RSUD Taman Husada yang menangani Hizkia Julico menjelaskan, Korban didiagnosa mengalami kematian di bagian batang otak.

“Hasil CT Scan menerangkan, terjadi pendarahan di bagian kepala yang menyebabkan kematian di bagian batang otak. Dari tampak fisik tidak ada memar dan tidak ada benjolan di bagian kepala, sehingga dilakukan CT Scan, dari hasil CT Scan menerangkan terjadi pendarahan di bagian otak,” jelasnya.

dr. Aditya Maulana, menyatakan bahwa kemungkinan hidup pasien dibawah 10 persen. Hingga kini, anak pertama dari Nathan (50) dan Yohana Tallo (43) itu masih di-support dengan pemasangan alat fentilator dan juga obat-obatan.

“Kemungkinan hidup dibawah 10 persen, dan saat ini keluarga belum mau dilepas, jadi kami mensupport dengan obat-obatan dan juga pemasangan alat fentilator,” ungkapnya.

Hingga berita ini diturunkan redaksi paragrafnews masih berupaya mengumpulkan informasi kepada pihak aparat Kepolisian dan TNI Kota Bontang.

Reporter: Mail
Editor: AMT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here